Hari-hari berikutnya, Kampung Surya dipenuhi dengan aktivitas. Dengan Lynx sebagai pemimpin baru mereka, suku-suku yang bersatu mulai bekerja sama untuk membangun pertahanan yang kokoh.

Karim dan Narendra, memimpin kelompok pemburu untuk memastikan pasokan makanan tetap terjaga. Raka dan Arkha mengorganisir kelompok prajurit untuk berpatroli dan melatih anggota lainnya.

Mochi membantu Lynx dalam merumuskan strategi dan pelatihan tempur, memastikan bahwa setiap orang memahami cara melindungi diri mereka.

Lynx sendiri terlibat langsung dalam pembangunan pertahanan bersama Widhi dan Maret. Ia menggunakan kekuatannya untuk menggali parit dan membangun tembok kayu yang mengelilingi kampung. Kali ini, berkat latihan yang intens, Lynx mampu menggunakan kekuatannya dengan presisi, memastikan tidak ada yang rusak atau berantakan.

Lala, yang turut membantu, berkata dengan nada bercanda, "Kontrol tenagamu sudah sangat baik sekarang. Sebagai seorang pemimpin, kamu harus bisa melindungi mereka semua."

Lynx tertawa kecil. "Itu semua berkat latihan keras dari kakekmu."

Meskipun kampung Surya mulai terlihat lebih kuat, Lynx tahu bahwa ancaman Monrest masih mengintai. Di dalam hatinya, ia bersumpah untuk melindungi kampung Surya dan semua orang yang bergantung padanya.

Di bawah langit malam yang dihiasi bintang-bintang, Lynx berdiri di puncak bukit kecil di luar kampung, memandang tembok kayu yang baru saja selesai dibangun. Di sampingnya, Leena mendekat, membawa lentera kecil.

"Lynx," kata Leena dengan lembut, "kau telah melakukan banyak hal untuk kami. Aku tidak tahu bagaimana kami bisa membalasmu."

Lynx menoleh kepadanya dan tersenyum. "Aku hanya melakukan apa yang aku rasa benar. Kita semua berjuang bersama."

Leena tersenyum, lalu memandang ke arah kampung yang kini disebut kampung Surya. "Aku merasa kita memiliki harapan baru. Terima kasih, Lynx."

Lynx menatap ke kejauhan, matanya yang tajam penuh dengan tekad. "Ini baru permulaan. Jika Monrest ingin datang, biarkan mereka. Aku tidak akan membiarkan mereka mengambil apapun dari kita lagi."

Dengan semangat baru dan persatuan yang lebih kuat dari sebelumnya, kampung Surya kini berdiri sebagai simbol harapan, siap menghadapi tantangan apa pun yang akan datang.

***

Sementara itu, di bagian lain pulau, terlihat sosok wanita diseret memasuki kampung Monrest dengan tangan terikat, tubuhnya penuh luka, dan wajahnya dipenuhi debu. Matanya bergerak gelisah, memandang perkampungan yang dipenuhi suasana suram. Bangunan-bangunan besar berdiri kokoh di bawah langit kelabu, dihiasi tengkorak-tengkorak dan simbol-simbol aneh yang membuat bulu kuduknya merinding.

"Jangan seret aku seperti ini!" teriak Sherly, mencoba memberontak, tetapi cengkeraman tangan prajurit Monrest terlalu kuat.

Ruvan berjalan di depan, memimpin rombongan dengan senyum puas di wajahnya. "Berhentilah melawan, wanita. Takdirmu sudah ditentukan."

"Aku tidak tahu apa yang kalian inginkan dariku!" Sherly berteriak lagi, matanya mulai memerah, tetapi suaranya kini terdengar lebih putus asa.

Ruvan menoleh ke belakang, menatap Sherly dengan senyum licik. "Kau akan segera tahu. Dan mungkin, kau akan merasa terhormat."

"Terkutuk kau!" Sherly meludah ke arah Ruvan, tetapi pria itu hanya tertawa kecil, tak terganggu sedikit pun.

Sherly dibawa ke sebuah altar besar yang berada di tengah perkampungan. Altar itu terbuat dari batu hitam yang dipenuhi ukiran-ukiran aneh. Di sekelilingnya terdapat beberapa pria dan wanita tua berpakaian hitam dengan wajah yang tertutup topeng tengkorak. Di bagian depan altar, seorang pria tinggi berdiri dengan tongkat besar di tangannya. Dialah pemimpin spiritual Monrest, yang dikenal dengan nama Agarth. Di sampingnya berdiri kepala suku Monrest, Damon.

"Akhirnya," kata Agarth dengan suara serak namun penuh wibawa. "Kau telah membawa yang kami butuhkan."

Ruvan menunduk hormat. "Ya, Tuan Agarth. Wanita ini berasal dari dimensi lain, seperti yang kau perintahkan."

Sherly menatap Agarth dengan mata melebar. "Apa yang kalian bicarakan? Aku bukan siapa-siapa! Kalian pasti salah orang!"

Agarth mendekat perlahan, memandang Sherly dengan tatapan tajam yang membuat tubuhnya bergetar. "Kau tidak perlu mengerti. Yang kau butuhkan hanyalah menerima takdirmu."

Sherly mundur, tetapi tubuhnya segera ditahan oleh dua prajurit Monrest. "Aku bisa memberitahu kalian hal-hal lain! Aku punya informasi! Aku bisa berguna untuk kalian!" katanya, mencoba merayu.

Damon yang berdiri di belakang Agarth tertawa kecil, suara tawanya dingin dan menakutkan. "Informasimu tidak ada artinya dibandingkan darahmu."

Damon mendekati Sherly dan memegang wajahnya. Ia memperhatikan wajah Sherly yang terlihat berbeda dengan penduduk asli pulau tersebut.

Agarth lalu mengangkat pisau kecil dari gading yang terukir aneh. Dia mendekati Sherly, yang kini berusaha meronta dengan sekuat tenaga.

"Jangan sentuh aku!" teriaknya. "Aku bisa membantu kalian! Aku bisa membawa kalian ke tempat orang-orang lain dari dimensi kami! Jangan lakukan ini!"

Ruvan, yang berdiri di samping, menatap Sherly dengan sinis. "Kau egois sampai akhir, ya? Selalu berpikir bisa menyelamatkan diri sendiri dengan mengorbankan orang lain. Lucu sekali. Apa kamu pikir aku tidak tahu tentang pengkhianatanmu."

Agarth tidak memperdulikan teriakan Sherly. Dia memotong sedikit bagian telapak tangan Sherly, membiarkan darah menetes ke altar. Darah itu jatuh ke ukiran-ukiran di atas batu hitam, mengalir ke lubang kecil yang terhubung ke bagian dalam altar.

Seketika, altar itu bergetar pelan, dan cahaya merah samar muncul dari ukiran-ukiran di permukaannya.

"Lihatlah!" seru Agarth kepada Damon dengan penuh semangat. "Darah ini cocok. Leluhur kita tidak lama lagi akan bangkit!"

Sherly menatap cahaya itu dengan mata melebar. "Apa yang kalian lakukan?! Ini gila! Aku tidak mau mati disini! Aku bisa membantu kalian! Lepaskan aku, aku bisa membawa kalian ke Lynx dan yang lainnya! Mereka lebih berharga dari aku!"

Agarth tersenyum dingin. "Kau sudah melakukan tugasmu. Tapi darah lebih banyak diperlukan. Dan kau, bersama tawanan lainnya, akan memenuhi tujuan itu."

"Kepala suku Damon, setelah kita mendapatkan kunci terakhir, maka kekuatan persembahan ini akan sempurna, formasi pengurung ini akan hancur dan leluhur Monrest segera bisa kita bangkitkan," kata Agarth.

"Tidak! Jangan! Kalian gila!" Sherly berteriak, tetapi tidak ada yang mendengarkannya.

Sherly diseret ke tengah altar bersama beberapa tawanan lain yang juga ditangkap oleh Monrest. Mereka semua berteriak ketakutan, memohon ampun, tetapi Agarth tetap melanjutkan ritualnya.

Agarth mengangkat pisau itu tinggi-tinggi, mengucapkan mantra dalam bahasa kuno yang tidak dimengerti Sherly.

"Aku mohon! Jangan lakukan ini! Aku bisa memberi kalian batu berlian. Aku mohon, lepaskan aku!" Sherly berteriak, air mata mengalir deras di pipinya.

"Batu berlian?" tanya Damon yang merasa asing dengan kata yang digunakan.

"Benar, aku akan memberikan batu berlian yang ada di kain di dalam pakaianku jika kalian melepaskanku," kata Sherly sambil berusaha merogoh kantong di dalam pakaiannya dengan tangan terikat.

"Cukup," kata Agarth dengan nada datar. Dia mengayunkan pisaunya, dan darah Sherly mengalir deras ke altar.

Sebuah batu kaca dengan simbol aneh jatuh dari tangan Sherly yang mulai terkulai lemas karena kehilangan darah.

Damon dan semua yang hadir terkejut melihat batu yang keluar dari tangan Sherly. Itu adalah batu kunci terakhir untuk membangkitkan leluhur mereka yang susah payah mereka cari selama ini.

Agarth mengambilnya dan menyerahkannya ke Damon. "Ini adalah pertanda kebangkitan suku kita. Batu dan darah kebangkitan sudah muncul di depan kita. Leluhur kita akan segera bangkit!" teriak Damon yang diikuti teriakan suku Monrest lainnya.

Saat darah Sherly dan para tawanan lainnya membasahi altar, getaran besar mengguncang perkampungan Monrest. Cahaya merah yang semakin terang muncul dari altar, membentuk bayangan-bayangan besar yang menyerupai sosok manusia, tetapi dengan aura kegelapan yang begitu menakutkan. Damon lalu meletakkan kunci terakhir pada altar yang melepaskan segel pada formasi sehingga sosok tersebut dapat terbebas dengan sempurna.

"Kita berhasil!" seru Agarth dengan suara penuh kemenangan. "Leluhur kita telah kembali!"

Bayangan itu mulai membentuk tubuh fisik, seorang pria tua dengan aura berkharisma memancarkan kekuatan tidak terhingga.

Ruvan menatap pemandangan itu dengan kagum. "Ini dia... kekuatan yang akan menghancurkan semua musuh kita."

Sementara itu, tubuh Sherly yang sudah tidak bernyawa tergeletak di altar, wajahnya membeku dalam ekspresi ketakutan yang mendalam. Keegoisannya tidak menyelamatkannya, dan dia menjadi salah satu dari banyak korban ritual mengerikan ini.

Leluhur Monrest kini telah bangkit, membawa kekuatan yang jauh melampaui apa yang pernah dimiliki suku itu sebelumnya. Dengan kekuatan baru ini, Monrest siap menyebarkan teror di seluruh pulau, sementara dunia Lynx dan orang-orang di kampung Surya harus bersiap menghadapi ancaman yang lebih besar dari sebelumnya.

